Link: https://youtu.be/9VecdbBqTOQ
Pabrik minyak goreng merupakan industri yang umum dijumpai di kawasan industri pangan dan menghasilkan limbah yang masih memiliki nilai guna bagi industri lain.
Industri ini dapat memanfaatkan residu berminyak dari pabrik minyak goreng sebagai bahan baku parsial.
Pabrik ini berperan sebagai penyerap limbah organik dari industri lain sehingga mengurangi pembuangan ke lingkungan.
Industri kemasan mendukung rantai pasok industri pangan sekaligus menghasilkan limbah plastik yang masih dapat dimanfaatkan.
IPAL berfungsi sebagai pusat pengolahan dan distribusi air daur ulang dalam kawasan industri ekologis.
Peta jaringan simbiosis industri menggambarkan hubungan antar industri dalam kawasan dengan tiga jenis aliran utama:
Diagram disusun tidak simetris untuk menunjukkan kondisi nyata kawasan industri, dengan IPAL sebagai simpul utama (hub).
|
Dari (Pemasok Limbah) |
Menuju (Penerima) |
Jenis Sumber Daya |
Manfaat bagi Penerima |
|
Pabrik
Minyak Goreng |
Pabrik
Sabun |
Residu
minyak & SBE |
Substitusi
bahan baku asam lemak |
|
Pabrik
Sabun |
IPAL |
Limbah cair basa |
Netralisasi limbah
kawasan |
|
Pabrik
Makanan Ternak |
IPAL |
Limbah
organik |
Pengolahan
terpusat |
|
IPAL |
Pabrik Minyak
Goreng |
Air olahan |
Mengurangi konsumsi
air baku |
|
IPAL |
Pabrik
Kemasan Plastik |
Air
olahan |
Air
pendingin proses |
|
Pabrik
Kemasan Plastik |
Pabrik Minyak
Goreng |
Panas buang |
Efisiensi energi
pemanasan |
Penerapan jaringan simbiosis industri ini memberikan manfaat lingkungan secara kualitatif, antara lain:
Secara keseluruhan, integrasi ini menurunkan beban IPAL eksternal dan mengurangi emisi tidak langsung akibat konsumsi energi dan air baru.
Salah satu tantangan utama dalam jaringan ini adalah:
Variasi kandungan minyak dan pH pada limbah cair dapat memengaruhi kestabilan proses IPAL jika tidak dilengkapi dengan unit equalization tank dan sistem kontrol kualitas yang memadai.
Tantangan ini memerlukan koordinasi antar industri dan pengelolaan kawasan yang terintegrasi.
Chertow, M. R. (2007). “Uncovering Industrial Symbiosis.” Journal of Industrial Ecology.
Lowe, E. A. (2001). Eco-Industrial Park Handbook. Indigo Development.
Van Berkel, R., et al. (2009). “Industrial and Urban Symbiosis in Japan.” Journal of Environmental Management.
Lokasi: Lingkungan pabrik tahu skala kecil di area pemukiman (UMKM pangan)
Metode: Observasi langsung
Lingkungan pengamatan merupakan kawasan pemukiman yang terdapat beberapa aktivitas usaha kecil seperti pabrik tahu, peternak kecil, dan usaha kebun/pertanian skala rumah tangga.
Berdasarkan hasil pengamatan, pabrik tahu menghasilkan beberapa jenis limbah yang muncul secara rutin setiap hari. Sebagian limbah telah dimanfaatkan melalui mekanisme simbiosis sederhana, namun masih terdapat limbah yang belum dikelola secara optimal dan berpotensi mencemari lingkungan.
|
Jenis Limbah |
Sumber |
Perkiraan Volume |
Kondisi Saat Ini |
|
Ampas
tahu (okara) |
Proses
penyaringan sari kedelai |
±50–70
kg/hari |
Dijual
secara rutin kepada peternak lokal |
|
Air
limbah tahu |
Proses pencucian
& perebusan |
±1–2 m³/hari |
Dibuang ke saluran
air |
|
Abu
sisa pembakaran |
Tungku
kayu bakar |
±5–10
kg/hari |
Ditumpuk/dibuang
di sekitar tungku |
Ampas tahu → Peternak ternak lokal
Ampas tahu dikumpulkan dan dijual secara rutin kepada peternak lokal sebagai bahan campuran pakan ternak (sapi, kambing, atau bebek).
Air limbah tahu → Kebun atau tanaman non-pangan
Air limbah difermentasi sederhana lalu digunakan sebagai pupuk cair untuk tanaman hias atau tanaman keras.
Abu kayu bakar → Petani/kebun sekitar
Abu kayu digunakan sebagai bahan amelioran tanah atau campuran kompos karena mengandung mineral.
Potensi simbiosis industri pada skala mikro dapat diterapkan dengan mudah di lingkungan pabrik tahu. Limbah yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya bagi pelaku usaha atau masyarakat sekitar, sehingga mendukung prinsip ekologi industri dan ekonomi sirkular pada tingkat komunitas.
Produksi = 15.000 potong/bulan
91.440 MJ / 15.000 = 6,10 MJ/potong tahu
Objek observasi adalah bengkel motor skala kecil yang melayani servis rutin seperti ganti oli, perbaikan rem, pengelasan ringan, dan perawatan mesin. Bengkel beroperasi enam hari dalam seminggu dengan durasi kerja sekitar delapan jam per hari. Aktivitas produksi dilakukan menggunakan peralatan listrik dan beberapa peralatan berbasis bahan bakar, sehingga konsumsi energi cukup beragam.
Berdasarkan observasi langsung, seluruh peralatan yang menggunakan energi dicatat beserta spesifikasi daya, durasi penggunaan, dan frekuensi pemakaian. Data ini menjadi dasar perhitungan konsumsi energi.
Tabel Inventarisasi Peralatan Bengkel
|
Nama Alat |
Spesifikasi Daya |
Durasi Penggunaan (jam/hari) |
Frekuensi (hari/minggu) |
|
Mesin
Las |
900
Watt |
3
jam |
5
hari |
|
Kompresor
Udara |
750 Watt (1 HP) |
2 jam |
6 hari |
|
Gerinda
Tangan |
600
Watt |
1
jam |
6
hari |
|
Lampu
Bengkel |
120 Watt |
8 jam |
6 hari |
Tabel ini menunjukkan bahwa mesin las dan kompresor udara merupakan peralatan dengan daya paling besar dibandingkan peralatan lainnya.
Rumus Konsumsi Energi Listrik:
Konsumsi energi (kWh) = (Daya (Watt) × Waktu penggunaan (jam)) / 1000
Perhitungan dilakukan untuk konsumsi energi mingguan agar dapat dibandingkan antar peralatan.
Tabel Perhitungan Konsumsi Energi Mingguan
|
Nama Alat |
Perhitungan Energi |
Konsumsi Energi (kWh/minggu) |
|
Mesin
Las |
(900
× 3 × 5) / 1000 |
13,5
kWh |
|
Kompresor
Udara |
(750 × 2 × 6) /
1000 |
9,0 kWh |
|
Gerinda
Tangan |
(600
× 1 × 6) / 1000 |
3,6
kWh |
|
Lampu
Bengkel |
(120 × 8 × 6) /
1000 |
5,76 kWh |
Mesin las merupakan peralatan dengan konsumsi energi tertinggi di bengkel ini. Hal tersebut disebabkan oleh daya listrik yang besar serta durasi penggunaan yang cukup lama dalam aktivitas pengelasan rangka dan komponen logam. Selain mengonsumsi energi listrik tinggi, mesin las juga menghasilkan panas dan percikan api, yang menunjukkan adanya konversi energi listrik menjadi energi panas secara signifikan.
Kompresor udara berada pada posisi kedua karena digunakan hampir setiap hari untuk mendukung berbagai pekerjaan bengkel, dan sering kali tetap menyala meskipun tidak digunakan secara terus-menerus.
Usulan perbaikan difokuskan pada mesin las sebagai pengonsumsi energi tertinggi. Bengkel disarankan untuk mengelompokkan pekerjaan pengelasan dalam waktu tertentu sehingga mesin tidak sering dinyalakan dan dimatikan. Selain itu, penggunaan mesin las tipe inverter dapat dipertimbangkan karena lebih efisien dibandingkan mesin las konvensional.
Untuk kompresor udara, perbaikan dapat dilakukan dengan mematikan mesin saat tidak digunakan dan melakukan perawatan rutin untuk mencegah kebocoran udara. Upaya ini dapat mengurangi waktu kerja kompresor dan menurunkan konsumsi energi tanpa mengurangi kualitas layanan bengkel.
Perilaku konsumsi masyarakat memiliki peran penting dalam menentukan tingkat keberlanjutan lingkungan. Pola konsumsi yang tidak berkelanjutan dapat meningkatkan jumlah limbah, pemborosan sumber daya, serta emisi lingkungan. Oleh karena itu, pengamatan langsung terhadap perilaku konsumsi masyarakat umum menjadi langkah awal untuk memahami praktik konsumsi yang merugikan lingkungan.
Observasi ini dilakukan di sebuah minimarket yang sering dikunjungi masyarakat umum. Minimarket dipilih karena menjadi tempat belanja kebutuhan sehari-hari dengan tingkat kunjungan tinggi dan beragam jenis produk kemasan sekali pakai.
Pengamatan dilakukan di sebuah minimarket pada jam sore hari, yaitu saat aktivitas belanja masyarakat cukup tinggi. Waktu observasi berlangsung selama kurang lebih 45 menit. Metode yang digunakan adalah observasi langsung terhadap perilaku konsumen tanpa melakukan interaksi atau wawancara, dengan fokus pada cara konsumen memilih produk, menggunakan kemasan, dan membawa barang belanjaan.
Berikut adalah lima contoh perilaku konsumsi tidak berkelanjutan yang sering ditemukan selama proses observasi.
|
No. |
Perilaku Konsumsi Tidak Berkelanjutan (Deskripsi Singkat) |
Frekuensi Kejadian |
Dampak Negatif Utama |
|
1 |
Konsumen membeli air mineral botol kecil untuk diminum sekali lalu
dibuang |
Sangat sering |
Penumpukan sampah plastik sekali pakai |
|
2 |
Konsumen menggunakan kantong plastik meskipun hanya membeli satu atau dua
barang kecil |
Sangat sering |
Peningkatan limbah plastik dan rendahnya penggunaan ulang |
|
3 |
Pembelian makanan ringan secara impulsif dengan kemasan plastik
multilayer |
Sering |
Pemborosan sumber daya dan sampah sulit didaur ulang |
|
4 |
Konsumen membeli minuman kemasan sachet atau botol sekali minum |
Sering |
Sampah plastik kecil yang sulit dikumpulkan dan didaur ulang |
|
5 |
Konsumen tidak membawa tas belanja sendiri dan selalu meminta kantong
plastik |
Sangat sering |
Ketergantungan pada plastik sekali pakai |
Dari hasil pengamatan, terdapat tiga perilaku yang paling sering terjadi, yaitu pembelian air mineral botol kecil, penggunaan kantong plastik untuk belanjaan kecil, dan tidak membawa tas belanja sendiri. Perilaku ini terjadi terutama karena faktor kemudahan dan kepraktisan. Konsumen cenderung memilih opsi yang paling cepat tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan.
Selain itu, harga produk kemasan kecil relatif murah dan mudah dijangkau, sehingga konsumen tidak terdorong untuk memilih alternatif yang lebih berkelanjutan seperti botol minum isi ulang atau galon. Faktor kebiasaan juga berperan besar, di mana penggunaan kantong plastik sudah menjadi praktik yang dianggap normal oleh masyarakat. Kurangnya fasilitas alternatif, seperti stasiun air minum isi ulang atau insentif untuk membawa tas belanja sendiri, semakin memperkuat pola konsumsi tidak berkelanjutan ini.
Untuk mengatasi perilaku konsumsi tidak berkelanjutan yang ditemukan, terdapat beberapa solusi praktis yang dapat diterapkan. Pertama, pihak minimarket dapat membatasi pemberian kantong plastik gratis dan mendorong penggunaan tas belanja guna ulang melalui sistem insentif atau diskon kecil bagi konsumen yang membawa tas sendiri.
Kedua, minimarket dapat menyediakan dan mempromosikan produk alternatif yang lebih berkelanjutan, seperti air minum isi ulang, kemasan ukuran besar, atau produk dengan kemasan ramah lingkungan, disertai dengan informasi edukatif yang mudah dipahami konsumen.
Ketiga, konsumen perlu didorong untuk meningkatkan kesadaran lingkungan melalui kampanye sederhana di dalam toko, seperti poster atau pesan singkat di area kasir yang mengingatkan dampak penggunaan plastik sekali pakai dan pentingnya konsumsi yang bertanggung jawab.
Hasil observasi menunjukkan bahwa perilaku konsumsi tidak berkelanjutan masih sangat sering terjadi di lingkungan minimarket yang dikunjungi masyarakat umum. Praktik seperti penggunaan plastik sekali pakai dan pembelian produk kemasan kecil menjadi penyumbang utama permasalahan lingkungan. Dengan kombinasi kebijakan pengelola toko dan perubahan perilaku konsumen, praktik konsumsi yang lebih berkelanjutan dapat mulai diterapkan secara bertahap.