Sabtu, 03 Januari 2026

Tugas Terstruktur 11

Analisis dan Usulan Green Supply Chain (GSC)


Link: https://analysis.netray.id/brand-susu-uht-favorit-warganet-twitter/

Produk: Susu Kotak (UHT)

1. Pendahuluan

Industri susu kemasan merupakan salah satu sektor pangan yang memiliki rantai pasok panjang dan kompleks, mulai dari peternakan sapi perah hingga distribusi ke konsumen akhir. Susu kotak UHT dipilih sebagai objek kajian karena tingkat konsumsinya yang tinggi di Indonesia serta penggunaan kemasan karton multilayer yang sulit didaur ulang. Kondisi tersebut menjadikan produk ini relevan untuk dianalisis dalam konteks Green Supply Chain Management (GSCM).

Penerapan GSCM pada produk susu kotak diharapkan dapat mengurangi dampak lingkungan, khususnya terkait emisi karbon, konsumsi energi dan air, serta permasalahan limbah kemasan pascakonsumsi. Analisis ini bertujuan untuk memetakan rantai pasok konvensional susu kotak, mengidentifikasi titik kritis dampak lingkungan, serta merumuskan strategi perbaikan yang lebih berkelanjutan.

2. Pemetaan Rantai Pasok Konvensional

Rantai pasok konvensional susu kotak UHT dapat digambarkan melalui lima tahapan utama sebagai berikut.

  • Tahap pertama adalah pengadaan bahan baku, yang meliputi susu segar dari peternakan sapi perah, bahan tambahan pangan, serta material kemasan seperti karton, plastik, dan aluminium foil. Susu segar umumnya berasal dari peternak lokal atau koperasi susu, sedangkan material kemasan sebagian besar berasal dari industri pengolahan bahan baku berbasis sumber daya fosil dan hutan.
  • Tahap kedua adalah proses produksi dan manufaktur. Susu segar diproses melalui tahapan pasteurisasi atau ultra high temperature (UHT) yang membutuhkan energi dan air dalam jumlah besar. Pada tahap ini juga dilakukan proses pembentukan dan pengisian kemasan karton aseptik.
  • Tahap ketiga adalah logistik masuk dan keluar. Bahan baku susu diangkut dari peternakan ke pabrik menggunakan truk berpendingin, sedangkan produk susu kotak didistribusikan dari pabrik ke gudang dan distributor menggunakan transportasi darat berbahan bakar diesel.
  • Tahap keempat adalah distribusi dan ritel. Produk susu kotak disalurkan ke toko ritel modern, minimarket, supermarket, serta warung tradisional sebelum akhirnya dibeli oleh konsumen.
  • Tahap terakhir adalah akhir masa pakai. Setelah dikonsumsi, kemasan susu kotak umumnya dibuang bersama sampah rumah tangga. Sebagian kecil dikumpulkan oleh bank sampah atau pengepul, namun sebagian besar berakhir di tempat pembuangan akhir karena keterbatasan fasilitas daur ulang kemasan multilayer.

3. Analisis Dampak Lingkungan

Berdasarkan pemetaan rantai pasok tersebut, terdapat dua titik kritis utama yang memberikan dampak lingkungan terbesar.

Titik Kritis

Contoh Masalah Lingkungan

Pengadaan bahan baku kemasan

Penggunaan kemasan multilayer berbasis plastik dan aluminium yang sulit didaur ulang serta bergantung pada sumber daya fosil

Logistik dan distribusi

Tingginya emisi karbon akibat penggunaan truk diesel untuk pengangkutan jarak jauh dengan frekuensi tinggi

Pada tahap pengadaan bahan baku kemasan, penggunaan material plastik dan aluminium virgin menyebabkan jejak karbon yang tinggi serta berkontribusi terhadap eksploitasi sumber daya alam. Sementara itu, pada tahap logistik dan distribusi, penggunaan moda transportasi konvensional berbahan bakar fosil menghasilkan emisi CO₂ yang signifikan.

4. Usulan Strategi Green Supply Chain Management

Berdasarkan dua titik kritis tersebut, berikut diusulkan tiga strategi GSCM yang dapat diterapkan pada rantai pasok susu kotak.

Prinsip GSCM

Deskripsi Strategi

Implementasi

Manfaat Lingkungan

Pengadaan Hijau

Substitusi sebagian material kemasan dengan bahan ramah lingkungan atau bersertifikat FSC

Bekerja sama dengan pemasok kemasan berkelanjutan dan menetapkan target minimal 30 persen bahan terbarukan

Mengurangi eksploitasi sumber daya alam dan jejak karbon kemasan

Desain dan Produksi Hijau

Optimalisasi proses produksi untuk efisiensi energi dan air

Penggunaan teknologi hemat energi serta sistem daur ulang air proses

Penurunan konsumsi energi dan air serta pengurangan emisi

Reverse Logistics

Pengembangan sistem pengumpulan kemasan susu kotak pascakonsumsi

Kolaborasi dengan bank sampah dan mitra daur ulang multilayer

Mengurangi volume limbah ke TPA dan meningkatkan tingkat daur ulang

Strategi pengadaan hijau berfokus pada pemilihan bahan baku kemasan yang lebih berkelanjutan. Strategi desain dan produksi hijau diarahkan pada efisiensi proses internal pabrik. Sementara itu, strategi reverse logistics bertujuan untuk menutup siklus material kemasan melalui pengumpulan dan daur ulang.

5. Kesimpulan dan Rekomendasi

Rantai pasok konvensional susu kotak di Indonesia masih menghadapi tantangan lingkungan yang signifikan, terutama pada aspek kemasan dan logistik distribusi. Penerapan Green Supply Chain Management melalui pengadaan hijau, produksi yang lebih efisien, serta sistem reverse logistics dapat secara signifikan mengurangi dampak lingkungan produk susu kotak.

Disarankan agar produsen susu mulai menetapkan target keberlanjutan yang terukur, meningkatkan kolaborasi dengan pemasok dan pengelola limbah, serta mendorong partisipasi konsumen dalam pengelolaan kemasan pascakonsumsi.

Daftar Pustaka

Srivastava, S. K. (2007). Green supply-chain management: A state-of-the-art literature review. International Journal of Management Reviews, 9(1), 53–80.

Seuring, S., & Müller, M. (2008). From a literature review to a conceptual framework for sustainable supply chain management. Journal of Cleaner Production, 16(15), 1699–1710.

Guide, V. D. R., & Van Wassenhove, L. N. (2009). The evolution of closed-loop supply chain research. Operations Research, 57(1), 10–18.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tugas Terstruktur 14

 Pemetaan Jaringan Simbiosis Industri (Eco-Industrial Network Map) I. Deskripsi Aktor Industri 1. Pabrik Minyak Goreng Input utama: Crude P...